Gabriella Buktikan Ide Sederhana Jadi Terobosan Teknologi Energi Bersih dan Sabet Juara di Young Scientist Competition 2026

Haflani · 27 Agt 2026 · 5 mnt

Isu energi bersih semakin hari semakin mendesak untuk dicarikan solusinya, terutama di tengah kebutuhan dunia akan sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Di tengah situasi tersebut, muncul sosok muda yang membuktikan bahwa gagasan sederhana bisa berkembang menjadi inovasi besar. Gabriella, mahasiswa Universitas Pertamina, berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara 1 pada ajang Young Scientist Competition 2026, sebuah kompetisi bergengsi yang digelar sebagai rangkaian dari Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026.

Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan International Fuel Cell and Hydrogen Energy Association (IFHE), dan berlangsung pada 21 hingga 23 Juli 2026 di Assembly Hall, Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta. Ajang tersebut mempertemukan berbagai talenta muda dari berbagai latar belakang keilmuan untuk memaparkan gagasan mereka seputar pengembangan ekosistem hidrogen sebagai sumber energi masa depan.

Gabriella tampil dengan karya berjudul “From MOF-5 to ZIF-8, Towards a Practical Hydrogen Storage System for Fuel Cell Electric Vehicles”. Melalui karya tersebut, dirinya mengangkat gagasan mengenai sistem penyimpanan hidrogen yang lebih praktis untuk diterapkan pada kendaraan listrik berbasis sel bahan bakar atau fuel cell electric vehicles. Konsep tersebut ia bangun dari hasil pengamatan terhadap sejumlah tantangan yang muncul pada penggunaan material penyimpan hidrogen konvensional bernama MOF-5, yang selama ini digunakan pada prototipe yang dikembangkan oleh Hydrogen Storage Engineering Center of Excellence (HSECoE).

Dari situ, Gabriella menemukan bahwa material MOF-5 memiliki keterbatasan, khususnya pada aspek proses sintesis serta stabilitasnya yang cenderung menurun setelah melalui beberapa kali siklus pengisian dan pelepasan hidrogen. Berbekal temuan tersebut, ia lantas mengusulkan ZIF-8 sebagai material alternatif yang dinilai lebih stabil sekaligus lebih praktis untuk diaplikasikan dalam jangka panjang. Tidak berhenti di situ, gagasan tersebut kemudian ia kembangkan lebih jauh dengan menghadirkan konsep tank swapping station, yakni mekanisme pertukaran tangki hidrogen yang terinspirasi dari sistem penukaran baterai pada kendaraan listrik yang sudah lebih dulu populer di masyarakat.

Melalui konsep tersebut, proses pengisian bahan bakar hidrogen tidak lagi harus dilakukan dengan cara konvensional, melainkan dapat digantikan dengan mekanisme tukar tangki yang dinilai lebih efisien dari sisi waktu maupun energi. Selain aspek teknis, Gabriella juga turut mempertimbangkan sisi kelayakan ekonomi serta potensi penerapan gagasan tersebut secara nyata di lapangan, sehingga konsep yang ia usung tidak hanya berhenti sebagai wacana ilmiah semata, melainkan memiliki peluang besar untuk direalisasikan.

Ketertarikan Gabriella terhadap dunia Metal-Organic Frameworks atau MOF, sebenarnya sudah tumbuh sejak lama, jauh sebelum ia memutuskan untuk mengikuti kompetisi tersebut. Ketertarikan itulah yang kemudian mendorongnya untuk terus menggali lebih dalam seputar teknologi penyimpanan hidrogen, hingga akhirnya membuahkan hasil berupa gagasan yang ia bawa ke ajang Young Scientist Competition 2026. Baginya, memenangkan kompetisi bukan sekadar soal meraih gelar juara, melainkan tentang bagaimana ide-ide acak yang muncul di kepala bisa diolah menjadi sesuatu yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat luas.

Sepanjang proses persiapan menuju kompetisi, Gabriella turut mendapatkan bimbingan dari salah satu dosen di Universitas Pertamina, yakni Dr. Agung Nugroho, Ph.D, yang berperan sebagai rekan diskusi sekaligus membantunya menelusuri berbagai referensi ilmiah yang relevan. Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang memperkuat landasan pemikiran Gabriella, sehingga gagasan yang ia bawa semakin matang ketika dipresentasikan di hadapan para juri.

Tantangan terbesar justru muncul ketika Gabriella harus mempresentasikan sekaligus mempertahankan gagasannya secara langsung di hadapan dewan juri yang berasal dari latar belakang yang sangat beragam, mulai dari kalangan mahasiswa pascasarjana, praktisi industri, hingga akademisi senior. Situasi tersebut sempat menjadi tekanan tersendiri baginya, namun di sisi lain juga menjadi ajang pembuktian sekaligus penguatan atas gagasan yang telah lama ia kembangkan.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, turut menyampaikan apresiasi tinggi atas capaian yang diraih Gabriella. Menurut beliau, prestasi tersebut menjadi cerminan nyata bahwa mahasiswa Universitas Pertamina mampu mengubah gagasan ilmiah menjadi inovasi yang relevan dengan berbagai tantangan energi di masa depan, sekaligus menjadi bagian dari semangat besar UPER Berdampak yang senantiasa mendorong mahasiswa untuk menghasilkan karya yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Ke depan, Gabriella berencana melanjutkan pengembangan gagasannya hingga mencapai tahap prototipe, dengan mempelajari lebih dalam seputar sistem kendali, desain, hingga optimasi storage vessel yang ia usulkan. Langkah tersebut sejalan dengan semangat Universitas Pertamina dalam mendorong pendidikan, penelitian, serta inovasi yang benar-benar memberi dampak nyata bagi kehidupan masyarakat luas.

Gagasan yang dibawa Gabriella turut selaras dengan Asta Cita ke-2 melalui penguatan kemandirian energi dan ekonomi hijau, serta Asta Cita ke-4 melalui penguatan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan pendidikan. Inovasi tersebut juga turut mendukung pencapaian SDG 7 mengenai Energi Bersih dan Terjangkau, serta SDG 9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui pengembangan teknologi energi serta infrastruktur yang inovatif dan berkelanjutan.

Kisah perjalanan Gabriella menjadi bukti nyata bahwa semangat berinovasi bisa lahir dari mana saja, termasuk dari lingkungan kampus yang mendukung penuh proses eksplorasi ilmiah mahasiswanya. Bagi generasi muda yang memiliki semangat serupa dan ingin turut mengembangkan gagasan di bidang energi bersih maupun bidang keilmuan lainnya, kini saatnya untuk mulai melangkah lebih jauh bersama lingkungan akademik yang tepat. Pendaftaran Universitas Pertamina sudah dibuka dan siap menyambut calon-calon inovator muda berikutnya.